Blood Connect Us, Darah Kuatkan Hubungan Sosial dan Persaudaraan

JawaPos.com – Minat masyarakat Indonesia mendonorkan darahnya masih rendah. Target nasional 2 persen dari jumlah penduduk atau 5,5 juta kantong darah per tahun masih belum tercapai.

Padahal donor darah mengandung nilai-nilai sosial untuk membantu sesama. Pesan itu juga yang menjadi tema besar tahun ini dalam peringatan Hari Donor Darah Dunia pada 14 Juni.

random post

Ketika JawaPos.com berkunjung ke Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Utara, terlihat kesibukan para petugas laboratorium untuk mengumpulkan, memeriksa, dan meneliti kantong-kantong darah yang terkumpul. Terlihat di berbagai tempat penyimpanan (freezer) darah, stok sudah menipis karena bertepatan dengan puasa dan Lebaran.

Kepala UTD PMI Jakarta Utara dr. Ulfah Suryani, MARS. M.Biomed menjelaskan tema besar Hari Donor Darah Dunia tahun ini adalah Blood Connect Us. Maknanya, dengan donor darah bisa mempererat jiwa sosial. Dengan darah juga bisa menyatukan semua umat agar bersaudara.

Blood Connect Us dengan darah kita jadi bersaudara, mempererat (menguatkan) jiwa sosial. Hari ini sebetulnya sangat bermanfaat untuk Inadonesia sebab masih sangat kekurangan darah. Normalnya 2 persen per jumlah penduduk 5,1 juta kantong harusnya. Ternyata enggak segitu, terutama bulan puasa miris turun 70 persen,” kata dr. Ulfah.

Kepala UTD PMI Jakarta Utara dr. Ulfah Suryani, MARS. M.Biomed (Jas dokter, kerudung merah) menjelaskan seputar manfaat donor darah. (Rieska Vordhani/JawaPos.com)

Darah pale dibutuhkan oleh mereka yang menderita Thalasemia. Setiap kali harus transfusi darah dibutuhkan 4-6 kantong. Sementara begitu stok darah menipis, maka mereka tentu kesulitan mendapatkan stok darah.

“Kami khawatirkan penderita Thalasemia, enggak mungkin disetop. Ada 5200 pasien Thalasemia yang terdaftar di Jakarta. Selama puasa saja kurang 66 kantong, terpaksa kami menggelar donor darah pengganti. Ini sangat riskan,” jelasnya.

Milenial Tak Antusias

Menurunnya atau menipisnya stok darah disebabkan tingkat animo atau antusiasme milenial yang enggan donor darah. Menurut dr. Ulfah, hal itu disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu milenial, pemuda usia 19 tahun datang ke kantor UTD PMI Jakarta Utara untuk mengantarkan temannya mendonorkan darahnya. Dia sendiri menolak untuk mendonorkan darahnya dengan alasan takut.

Hal itu dibenarkan dr. Ulfah. Bahwa banyak milenial yang takut mendonorkan darahnya karena kurang pemahaman atau edukasi. Kampanye serta aphorism dari pemerintah juga kurang gencar. Selama ini donor darah hanya bersifat seremoni dan jika ada ulang tahun atau keperluan CSR perusahaan.

“Banyak milenial takut jarum, sebab kami kan menyadap darah ya. Jarumnya berbeda bukan jarum suntik. Maka banyak yang merasa takut,” ungkapnya.

Banyak pula milenial yang takut donor darah karena takut terdeteksi penyakit. Padahal darah merupakan cairan yang tak bisa digantikan dengan apapun. Dan donor darah dibutuhkan keikhlasan serta kerelaan menolong sesama.

More banyuwangAi ...

  • Catat 6 Alur dan Syarat yang Tepat Sebelum Donor DarahCatat 6 Alur dan Syarat yang Tepat Sebelum Donor Darah JawaPos.com – Banyak masyarakat masih belum memahami seputar persyaratan mendonor darah. Karena kurang terdukasi, akibatnya masyarakat pun jadi ragu untuk mendonorkan darahnya.Kepala Unit […]
  • Stok Darah Cukup untuk Tahun BaruStok Darah Cukup untuk Tahun Baru BANYUWANGI – Menjelang tahun baru, ketersediaan stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Banyuwangi dipastikan aman. Organisasi yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan […]
  • Klub Donor Darah RSAH Sumbang 2.000 Kantong DarahKlub Donor Darah RSAH Sumbang 2.000 Kantong Darah GENTENG - Dalam setahun, Klub Donor Darah (KDD) Rumah Sakit Al Huda (RSAH) telah berhasil menyumbangkan lebih dari 2.000 kantong darah. Capaian ini tidak terlepas dari partisipasi aktif […]