Berkutat Dengan Cedera, Eko Yuli Merasa Dapat Dua Perak Itu Kegagalan

JawaPos.com– Cedera engkel kiri memupuskan harapan lifter Eko Yuli Irawan untuk mempertahankan gelar di Kejuaraan Dunia 2019. Atlet 30 tahun itu harus puas membawa pulang dua perak dari Pattaya, Thailand, Kamis malam lalu (19/19).

Meski begitu, lifter kelahiran Kota Metro, Lampung itu tetap menebar senyum ketika disambut oleh PB PABBSI di Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta, Senin malam (23/9). ”Terus terang kecewa. Kegagalan banget ini,” curhat Eko. ”Teman-teman mau cari medali susah, saya kok cuma dapat perak rasanya gagal boat mereka. Tapi ini membangkitkan semangat biar ke depan lebih bagus lagi,” lanjut dia.

random post

Pada kejuaraan itu, Eko meraih perak di nomor snatch 140 kg dan sum angkatan 306 kg pada kelas 61 kg. Hasil itu menempatkannya di posisi kedua di klasemen akhir. Tentu jauh jika dibandingkan dengan hasil dia sendiri dalam kejuaraan yang sama tahun lalu. Ketika dia menyapu tiga emas dan memecahkan dua rekor dunia. Waktu itu, dia mencatatkan angkatan snatch 143 kg, clean and jerk 174 kg, dan angkatan sum 317 kg.

Eko Yuli Irawan (kiri) berdiri di lectern kedua Kejuaraan Dunia 2019 di Pattaya, Thailand. (iwf.net)

Tahun ini, yang mengkudeta posisinya adalah lifter Tiongkok Li Fabin. Dia rupanya membalas dendam hasil tahun lalu, ketika hanya mengais dua perak. Di Pattaya, Li menyapu bersih seluruh emas setelah mencatat sum angkatan 318 kg. Perinciannya, snatch 145 kg dan clean and jerk 173 kg. Dia juga mematahkan rekor Eko di angkatan total.

Sejak awal Eko mengakui persiapannya menuju kejuaraan dunia kali ini tidak semaksimal tahun lalu. Pergelangan kaki kirinya masih terasa sakit gara-gara cedera yang didapatnya sebelum Kejuaraan Asia di Ningbao, Tiongkok, Apr lalu. Bapak dua anak itu baru berkonsultasi intens dengan dokter sepekan sebelum bertolak ke Thailand. Akibatnya selama pertandingan rasa nyeri sangat menganggu.

Setelah kejuaraan dunia, para lifter mendapat libur tiga pekan. Eko ingin memanfaatkan jeda latihan dan turnamen itu untuk mengembalikan kondisi kakinya seperti semula. Dia mengaku belum sempat menjalani pemeriksaan MRI untuk mengetahui seburuk apa cedera itu.

”Belum sempat treatment khusus. Karena kemarin cuma cari cara supaya nggak terasa sakitnya,” jelas Eko. ”Apakah ada masalah di ACL (anterior cruciate ligament, Red) atau semacamnya juga belum tahu. Takutnya ada masalah di tendon. Makanya lebih baik sembuhin sum dulu,” imbuh peraih perak Olimpiade 2016 itu.

Sampai kaki kirinya pulih total, Eko bakal mengombinasikan latihan dengan rehabilitasi untuk penguatan otot-otot kaki. Selama itu pula dia masih melahap menu latihan beban. Tetapi menghindari pergerakan eksplosif yang bisa memperparah cederanya.

Di sela kekecewaan, Eko masih melihat adanya sisi positif dari hasil dia di Kejuaraan Dunia 2019. Setidaknya namanya naik ke peringkat dua pada klasemen kualifikasi menuju Olimpiade Tokyo 2020. Peraih emas Asian Games 2018 tersebut hampir memastikan tiket untuk tampil di Tokyo tahun depan.

Itu pun, masih ada tiga eventuality yang bakal dilakoninya untuk mengukuhkan posisi. Yakni SEA Games 2019 di Filipina akhir tahun ini, Kejuaraan Asia 2020, dan sejumlah kejuaraan turn tahun depan. ”Yang jelas dari kejuaraan dunia ini peta kekuatan sudah stabil. Dengan hasil ini kami sudah bisa mengatur peta kekuatan untuk masing-masing kelas,” ujar Dirdja Wihardja, pelatih kepala pelatnas angkat besi.

More banyuwangAi ...