Berkat Pariwisata, UMKM Makanan Ringan Banyuwangi Beromset Ratusan Juta Per Bulan

TRIBUN-BALI.COM, BANYUWANGI – Perkembangan ekonomi dan pariwisata Banyuwangi berdampak positif ke penjualan berbagai sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satunya, UMKM sektor kuliner berbagai macam penganan ringan.

Kurnia, pemilik rumah produksi makanan ringan ‘Anisa’, mengatakan, perkembangan bisnisnya makin pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Baca: Terapkan IPK Tinggi, Peserta yang Gagal CPNS Banyuwangi Diakomodir Menjadi TH

Baca: Gubernur Koster: Bali Tidak Lagi Menjadi Pulau Surga, Sekarang Disindir Pulau Neraka Karena Ini

Baca: Banyak yang Tak Tau, Ini Alasan Black Box Lion Air JT 610 Direndam di Dalam Air Setelah Ditemukan

Baca: Polda Bali Catat 12 Pelanggaran di Hari ke-2 Operasi Zebra Agung 2018

Mengembangkan pusat produksi di Desa Lemahbang Dewo, Kecamatan Rogojampi, makanan ringan Anisa banyak terserap pasar, mulai bolu kering, bagiak, opak gulung, opak lipat, kue matahari, hingga keciput.

 

“Perkembangan usaha saya tidak bisa terlepas dari semakin tumbuhnya ekonomi dan dunia pariwisata di Banyuwangi. Saat ada festival, Banyuwangi kedatangan banyak wisatawan yang pasti butuh oleh-oleh kue khas daerah ini,” kata Kurnia.

Kurnia merintis bisnis kue keringnya sejak 2008 silam. Saat itu, dia sendiri yang melakukan semua proses produksinya. “Awal dulu saya hanya bikin kue bagiak. Penjualannya juga masih terbatas karena peminatnya belum banyak,” kenang Kurnia.

Setelah 2011, saat Banyuwangi mulai rutin menggelar berbagai atraksi festival wisata, bisnis Kurnia mulai melonjak. Dia aktif memasok ke sejumlah pusat oleh-oleh di Banyuwangi.

“Saat itu saya belum punya opening sendiri. Jadi hanya memasok ke toko oleh-oleh. Akhirnya saya tahun 2014 mulai berani bikin opening sendiri karena penjualan terus meningkat,” ujar Kurnia.

Sebelum pariwisata menggeliat, kata dia, penjualan kuenya hanya berkisar 1.000 bungkus per bulan. Namun sekarang bisa melonjak menjadi 7.500 bungkus per bulan. Omsetnya joke ikut terkerek, dari hanya Rp6 juta per bulan, sekarang bisa mencapai Rp240 juta per bulan.

“Peningkatannya signifikan sekali. Dulu saya tidak punya karyawan, sekarang sudah dibantu 30 karyawan. Semoga barokah,” kata dia semringah.

Rumah produksi Anisa terkenal dengan kue bolunya yang laris-manis. Untuk menjawab perkembangan pasar wisatawan, Kurnia memodifikasi beragam rasa, seperti bolu tape, bolu pandan, bolu senyum, bolu lapis, dan bolu gula merah.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas bersyukur Banyuwangi Festival yang digelar sejak 2011 silam bisa mengungkit perekonomian warga kecil. Setiap tahunnya, Banyuwangi Festival beragendakan puluhan atraksi wisata yang mendatangkan ribuan wisatawan.

“Semoga geliat perekonomian ini bisa dirasakan oleh seluruh warga Banyuwangi. Masyarakat kami harapkan bisa jeli menangkap peluang usaha yang tercipta dari geliat ekonomi dan pariwisata Banyuwangi. Silakan datang ke Rumah Kreatif milik Pemkab Banyuwangi untuk mendapat fasilitasi desain kemasan gratis, pemasaran, dan sebagainya,” kata Anas. (*)

More banyuwangAi ...