Belajar dari Dzoel, Fotografer Disabilitas Asal Banyuwangi




Banyuwangi – Dengan keterbatasan fisik pada tangannya Achmad Zulkarnain alias Dzoel (25), seorang fotografer disabilitas berusaha memegang kamera DSLR Canon dengan lensa seberat 5 kg. Sejurus kemudian, ia mengambil gambar. Terlihat pria kelahiran Banyuwangi itu sudah mahir memegang kamera dengan separuh tangannya.

“Awalnya saya merasa kesulitan pegang dan seringkali kameranya jatuh. Sekarang sudah biasa pegang kamera. Bahu saya capek sih pegang kamera DSLR, apalagi boat gini ini beratnya sekitar 5 kg,” ungkap Dzoel kepada wartawan, Jumat (27/10/2017).

Sudah tiga tahun lamanya Dzoel menekuni bidang fotografi. Ketika memulai belajar fotografi, pria yang saat ini berdomisili di Jakarta itu memulainya dengan belajar sendiri alias otodidak.

“Saya sudah 3 tahun menekuni bidang fotografi. Awalnya saya belajar otodidak dan baru satu bulan ini saya belajar fotografi di Darwis Triadi School of Photography,” ujar penggemar fotografer Darwis Triadi itu.

Dzoel mengaku kecintaannya terhadap dunia fotografi berawal dari pekerjaannya sebagai tukang foto KTP di sebuah warung internet di Banyuwangi. Ingin menekuni fotografi, Dzoel keluar dari pekerjaannya dan membeli kamera Canon 1100 D secara kredit.

 

“Awalnya saya bekerja di salah satu warung internet di Banyuwangi, yang ada kameranya untuk foto KTP. Saya biasanya motretin orang-orang yang mau bikin KTP, dari situ saya mulai menyukai fotografi. Setelah itu saya keluar dari kerjaan saya dan menekuni dunia fotografi dengan membeli kamera sendiri secara kredit,” ujarnya.

Meski sudah pernah memotret akrtis tanah atmosphere seperti Marsyanda, Omesh, Dian Sastro, dan Vincent Rompies, Dzoel berharap suatu hari nanti bisa memotret Soimah.

“Saya ingin motret Soimah karena saya ngefans sama dia,” ujarnya seraya tertawa ringan.

Kepada para fotografer, Dzoel berharap para fotografer meningkatkan kualitas fotonya dan tidak menjadikan kamera sebagai alat untuk mendekati perempuan cantik.

“Tingkatkan kualitas foto, jangan pakai kamera sebagai alat ‘modus’ untuk mendekati cewek cantik,” harapnya.

Mengingat sebentar lagi adalah hari sumpah pemuda, Dzoel berharap di Hari Sumpah Pemuda, ada perubahan positif dari para pemuda di Indonesia.

“Banyak di antara kita yang jauh melupakan sejarah ketika para pemuda memperjuangkan kemerdekaan. Saya prihatin melihat pemuda zaman sekarang yang tidak punya jati diri, tidak tahu tujuan hidupnya. Saya berharap di Hari Sumpah Pemuda ada suatu perubahan yang positif untuk diri kita sendiri dan para pemuda di Indonesia,” ujarnya.

(asp/asp)

More banyuwangAi ...