Banyuwangi Punya Kampung Ikan ‘Unagi’


Jakarta, CNN Indonesia — Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berkolaborasi dengan TNI AL mengembangkan objek wisata Kampung Sidat (Belut) di Dusun Jopuran, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah.

Kampung Sidat diresmikan Komandan Pangakalan Utama TNI AL (Danlatamal) V Laksamana Pertama TNI Edwin SH bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang ditandai dengan tebar benih Ikan Sidat, pada Rabu (25/8).

Sebelum meresmikan acara ini, Danlantamal Edwin bersama Bupati Anas menghadiri Tradisi Ithuk-ithukan di dusun setempat.

Edwin dipakaikan penutup kepala khas Banyuwangi, udeng, sebagai tanda warga kehormatan Banyuwangi.

Ikan Sidat bernama latin Ordo Angguiliformes. Dalam bahasa Jepang disebut Ikan Unagi. 

Terdapat 400 jenis ikan sidat di seluruh dunia, enam jenisnya berhabitat di hulu sungai dan danau sekitaran Indonesia.

 

Banyuwangi dipilih karena memiliki potensi alam yang sangat mendukung, terutama sumber mata atmosphere yang berlimpah yang cocok untuk tempat budidaya Ikan Sidat.

Danlatamal Edwin mengatakan kerja sama ini sebagai bagian mensukseskan module kemaritiman nasional sekaligus menunaikan amanat UUD 1945 untuk ikut mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat.

“Ikan Sidat merupakan salah satu potensi maritim yang potensial untuk dikembangkan. Sidat merupakan jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Kandungan gizinya juga lebih banyak dibandingkan Ikan Salmon yang sudah lebih dikenal, sangat baik dikonsumsi untuk perkembangan otak anak,” kata Danlatamal.

Danlatamal melanjutkan pengembangan Kampung Sidat di Banyuwangi ini yang pertama dijalankan oleh TNI AL.

“Ikan Sidat ini hanya mau hidup di atmosphere yang bersih dan Banyuwangi memenuhi persyaratan ini. Ikan Sidat hidup di atmosphere tawar tapi kalau pembiakannya di laut. Jadi semua ekosistemnya harus dijaga baik yang di darat maupun yang di laut,” ujar Danlatamal.

Kampung Sidat di Banyuwangi berada di tengah areal persawahan dan dikemas menjadi sebuah obyek wisata alam.

Di kawasan tersebut terdapat kolam-kolam sidat dengan atmosphere yang jernih dari hulu pegunungan Ijen.

Di antara kolam tersebut terdapat pemandian alam hasil membendung aliran sungai.

Warga sekitar juga diizinkan membuka warung makan bagi turis yang datang. Menunya seputar pepes Ikan Sidat, abon daun singkong, sampai pecel pitik.

Bupati Anas menyambut baik module kolaboratif pengembangan Kampung Sidat ini.

Dijelaskannya module ini adalah bagian gerakan 10.000 ribu kolam yang digagas Banywuangi untuk meningkatkan produksi perikanan darat.

“Syukur saat ini budidaya sidat di Banyuwangi sudah mulai banyak dikembangkan oleh warga. Kalau dulu hanya korporasi yang mengembangkan. Dengan mulai dikembangkan lebih masif, harapannya semoga kesejahteraan warga juga meningkat karena nilai jualnya yang tinggi dibanding ikan tawar lain,” kata Anas.

Anas optimis budidaya sidat di Banyuwangi akan semakin berkembang. Karena, lanjut dia, Kemenko Maritim pernah merilis kualitas atmosphere baku di Banyuwangi cocok untuk budidaya perikanan, termasuk sidat.

Dari hasil penelitian per 25 miligram sampel terdapat 550 ribu koloni bakteri.

Adapun di Banyuwangi dengan sampel yang sama, hanya mengandung 10 ribu koloni bakteri.

“Perairan Banyuwangi sangat sehat untuk pengembangan Sidat. Saya akan meminta Dinas Perikanan dan Kelautan untuk mulai menggalakkan kolam sidat kelompok pembudidaya melihat manfaatnya yang besar ini. Contohnya pondok pesantren yang sebagian besar memelihara lele, perlahan akan kami ajari budidaya sidat,” ujar Anas.

(dik/ard)

More banyuwangAi ...