Banyuwangi Mendapat Anugerah Kebudayaan dalam Peringatan HPN 2016

Jatim – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Yakni dengan diberikannya Anugerah Kebudayaan kepada delapan bupati/walikota atas kepedulian dan pro-aktif pada peningkatan kebudayaan di daerahnya.

HPN 2016, PWI Beri Anugerah Kebudayaan Kepada Delapan Bupati/Walikota

Delapan bupati/walikota yang berhasil meraih predikat tersebut adalah, Walikota Bandung Jawa Barat – Mochamad Ridwan Kamil, Bupati Wakatobi Sulawesi Tenggara – Hugua, Walikota Sawahlunto Sumatera Barat – Ali Yusuf, Bupati Purwakarta Jawa Barat – Dedi Mulyadi, Bupati Banyuwangi Jawa Timur – Abdullah Azwar Anas, Penjabat Bupati Belu NTT – Wilhelmus Foni, Walikota Tomohon Sulawesi Utara – Jimmy F Eman, dan Bupati Tegal Jawa Tengah – Enthus Susmono.

Ketua PWI Pusat, Margiono di acara Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2016 di Hotel Lombok Raya Mataram NTB, Minggu kemarin (7/2) mengatakan, Anugerah Kebudayaan diberikan dilatar-belakangi oleh kesadaran bahwa kebudayaan merupakan ruh suatu bangsa. Jika bupati/walikota melek dan pro kebudayaan, sudah barang tentu akan dapat menjaga rug kebudayaan tersebut.

Seorang professor pernah mengatakan, Jika suatu bangsa bangkrut ekonominya, cepat atau lambat akan bisa diatasi. Akan tetapi jika yang bangkrut itu kebudayaannya, maka hal itu akan sulit diatasi. “Hal ini patut menyadarkan kita, betapa pentingnya arti kebudayaan bagi suatu bangsa,” ujarnya.

Sayangnya, kebudayaan Indonesia hingga kini belum memiliki UU sebagai landasan hukum dan pegangan bersama. Akibatnya, individu dan masyarakat yang tuna acuan itu berjalan sendiri-sendiri. Ketika serbuan globalisasi begitu masif, dan era kebebasan tumbuh dan berkembang lebih pesat dari yang diperkirakan, banyak orang menjadi asing dengan dirinya sendiri, juga menjadi asing dengan kebudayaan nasional dan kebudayaan lokalnya sendiri. “Hal inilah yang sekarang terjadi di negeri tercinta ini, dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi orang-orang yang sadar,” ujar Margiono.

Karena itu, dengan adanya Anugerah Kebudayaan, ia berharap dapat memacu dan menjadi ujung tombak terhadap perkembangan kebudayaan nasional dengan cara memajukan kebudayaan local di daerahnya masing-masing. Selain itu, ke depan bisa diteladani, di tengah menggerakkan, dan di belakang terus mendorong, atau dalam bahasa Ki Hajar Dewantoro “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”.

Ketua Panitia HPN 2016, Teguh Santoso menambahkan, dengan adanya Anugerah Kebudayaan di tengah tengah HPN 2016 menjadi sangat relevan dengan tantangan bangsa yang sangat membutuhkan tokoh formal yang inspiratif dan sesuai dengan dipilihnya NTB sebagai tuan rumah HPN 2016.

 

Menurutnya, NTB adalah salah satu negeri impian bagi wisatawan, maka tak berlebihan jika NTB dikatakan sebagai surge tersembunyi di nusantara. Secara factual, kecantikan, pesona, dan keindahan NTB adalah modal besar dalam upaya pemerintah mengembangkan sector wisata nasional.

Kalau diibaratkan sebuah tasbih, maka NTB hanya salah satu dari 34 butir mutu manikam (provinsi). Untuk melestarikan dan mencemerlangkan masing masing butir mutu manikam tersebut, diperlukan tokoh tokoh yang memiliki wawasan kebudayaan yang memadai, agar bisa memimpin, menggerakkan, mendorong, dan menjadi teladan. “Hanya dengan pendekatan kebudayaan, kita tidak akan tercerabut dari akar, meskipun kita sedang dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ataupun era globalisasi,” ujarnya.

Adanya Anugerah Kebudayaan ini upaya awal bagi PWI Pusat untuk mencari, menemukan, dan mengapresiasi tokoh formal yang pro kebudayaan. Ke depan, anuderah ini akan terus diberikan secara berkelanjutan dan berkala dengan tujuan untuk memotivasi para pemimpin daerah agar berlomba lomba memajukan pembangunan di daerahnya dengan berbasis kebudayaan.

Seperti diketahui, penilaian telah dilakukan sejak Juni 2015 oleh tim dengan cara mengumpulkan informasi, melakukan seleksi, hingga mengundang/bertemu dengan para calon untuk diwawancarai, dikonfirmasi hingga diklarifikasi secara langsung. Aspek yang dinilai, yakni konsepnya tentang kebudayaan, pencapaian kinerja berbasis kebudayaan, serta sumbangannya terhadap pembangunan kebudayaan nasional. (put)

More banyuwangAi ...