Banyuwangi Gelar Pertunjukan Seni Setiap Malam

  • share facebook
  • share twitter
  • share google+
  • share pinterest

Banyuwangi Gelar Pertunjukan Seni Setiap Malam  

TEMPO.CO, Jakarta – Pemkab Banyuwangi sejak Januari 2017 menggelar atraksi seni pertunjukan setiap malam di tengah kota yang menyuguhkan beragam kesenian tradisional yang dibawakan oleh anak-anak sekolah.

Bupati Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa, 14 Februari 2017, mengatakan atraksi itu akan menjadi tujuan wisata baru di Kota Banyuwangi. Setiap wisatawan yang datang ke Banyuwangi kini bisa menyaksikan pertunjukan budaya setiap hari di tengah kota.

 

“Kami mendapatkan masukan, banyak wisatawan yang sebenarnya ingin melihat pertunjukan kesenian Banyuwangi. Maka mulai Januari,  kami mulai menggelar pertunjukan seni dan budaya lokal setiap hari,” kata Azwar Anas.

Halaman Gedung Pamer milik Pemkab Banyuwangi yang terletak di jantung kota kini setiap malam hari selalu meriah oleh penampilan beraneka atraksi seni budaya. Seperti pada Senin, 13 Februari 2017,  puluhan siswa gabungan dari tiga di Kecamatan Songgon menampilkan beragam kesenian, mulai dari tari gandrung, jaranan, hingga pantomim. Semua dimainkan oleh siswa sekolah, termasuk musik tradisional pengiring tarian.

Namun, kata Anas, di balik pertunjukan untuk para turis asing itu, pentas seni budaya ini sebenarnya untuk menyiapkan panggung bagi generasi penerus budaya di Banyuwangi yang dikenal memiliki beragam seni budaya tradisional.

Menurut dia, lewat module ini semua kesenian lokal yang ada di wilayah masing-masing dapat ditampilkan secara bergilir dengan pelaku anak-anak sekolah.  “Panggung ini menjadi media bagi anak-anak untuk berani tampil di panggung yang lebih luas, yang lebih banyak ditonton warga. Tidak lagi hanya tampil di tingkat desa atau kecamatan saja. Kita terus kasih ruang bagi generasi penerus budaya. Ini modal bagi mereka untuk membentuk kepercayaan dirinya,” ujar Anas.

Penampil pentas seni itu digilir dari seluruh sekolah di Banyuwangi. “Ini juga bentuk pemerataan. Siswa di pelosok desa kami berikan kesempatan yang sama untuk bisa tampil di kota. Dan terbukti, penampilan siswa asal desa tak kalah jauh dengan penampilan siswa sekolah di kota,” ucap Anas.

Khusnul khotimah, penari yang juga siswa SDN 1 Sumberbulu, Songgon yang datang bersama rombongan satu train mengaku sangat senang diberi kesempatan bisa manggung di Kota Banyuwangi. “Awalnya malu dan takut waktu mau mulai, tapi pas manggung rasanya senang banget. Semoga acara semacam ini diadakan terus, biar kita ada kesempatan nari di kota. Sudah sering kalau nari di sekitar sekolah atau desa saja,” kata siswi kelas 5 ini.

Menurut Anas, konsistensi memberikan ruang bagi generasi pecinta seni ini penting untuk mendorong tumbuhnya talenta generasi muda. Karena, selama ini anak-anak banyak didorong mempelajari seni, tapi jarang diberikan ruang untuk mengekspresikan apa yang mereka pelajari dan mereka senangi.

“Bagi kami, kesenian dan pariwista tidak hanya untuk mendatangkan turis. Atraksi wisata yang kami buat, adalah salah satu cara untuk konsolidasi budaya. Mereka harus berlatih rutin sebelum tampil, belum lagi mereka harus berlatih atraksi bareng dengan siswa lintas sekolah. Konsolidasi budaya perlahan akan tercipta,” kata Azwar Anas. *

ANTARA

 

 

 

 

More banyuwangAi ...