Atlet Tak Dimintai Iuran, tapi Malah Dibayar

Di antara lima sasana tinju yang diakui Pertina Banyuwangi ada satu yang cukup eksis. Sasana ini aktif melakukan rekrutmen dan pembinaan bagi petinju baru. Meski sempat beberapa kali berpindah lokasi, sasana bernama Mina Boxing Camp ini masih eksis membina tinju hingga sekarang.

FREDY RIZKI, Kalipuro

SUARA teriakan dan pukulan ke objek mati terdengar pelan ketika Jawa Pos Radar Banyuwangi mendekati sebuah sasana tinju yang berada tak jauh dari pintu masuk jalan lingkar Ketapang bagian selatan. Di sebuah lokasi tertutup yang tidak terlalu besar, rupanya sedang berlatih beberapa atlet tinju berusia remaja ditemani dua orang pelatih.

Yang satu berpenampilan kekar dan yang satu sedikit lebih tua namun masih tampak lincah menirukan gerakan pukulan hook. Suasana joke terlihat semakin ramai ketika beberapa tetangga yang tinggal di dekat sasana ikut melihat para petinju berlatih.

Joko Misbono, ketua sasana yang sedari tadi menyaksikan atlet dan pelatihnya berlatih menuturkan, sasana yang ditempatinya saat ini adalah lokasi ketiga yang digunakan berlatih. Dia menceritakan, sejak berdiri pada tahun 2011 lalu, Mina Boxing Camp berpindah tiga kali.

Awalnya, nama sasananya adalah Ketapang Boxing Camp. Menyesuaikan lokasi tempat berdirinya sasana yang berada tepat di belakang SDN 2 Ketapang. Ketika itu lokasinya boleh dibilang sangat-sangat sederhana. Hanya berupa pekarangan rumah yang disulap menjadi tempat latihan.

Samsak yang digunakan untuk latihan memukul joke digantung di atas pohon mangga yang kebetulan ada di pekarangan itu. ”Meskipun cukup sederhana, tapi atlet yang berlatih sangat rajin. Waktu itu kita hanya punya empat atlet. Yang pale muda kelas dua SD yang pale besar kelas enam SD,” kata Joko.

 

Meski hanya memiliki empat atlet, sasana tersebut mampu bertanding di beberapa kejuaraan di luar kota. Sayangnya, perkembangan sasana tersebut  tidak memperoleh dukungan penuh tanpa alasan yang tak bisa dijelaskan. ”Ada pihak yang tidak ingin sasana ini berkembang,’’ ujarnya.

Karena merasa down, Joko akhirnya memvakumkan aktivitas sasananya. Seluruh aktivitas berlatih yang ada di sasana termasuk atlet yang baru direkrut dibubarkannya. ”Akhirnya kita sempat vakum hampir tiga tahunan,” katanya.

Selama itu, tidak ada aktivitas sampai akhirnya Joko bertemu dengan Pak Susiyadi beberapa bulan sebelum Porprov 2015 digelar. ”Pak Susiyadi pelatih saya dulu. Dia mengajak menghidupkan kembali sasana yang sempat saya kelola,” kata bapak dua anak itu.

Tak lama kemudian, Joko joke memperkenalkan sasana yang dihidupkannya kembali melalui media Facebook. Sama seperti awal tahun 2011 lalu, satu- per satu mulai muncul atlet tinju yang berminat untuk bergabung dengan sasananya.

Joko yang kembali bersemangat, lalu menyiapkan lahan baru yang dari rumah kos milik keluarganya di daerah Karangente yang disulap menjadi sasana. ”Waktu itu ada tiga kamar yang saya bongkar supaya bisa jadi tempat berlatih,” ujar Joko.

Nama Ketapang Boxing Camp diubah seperti nama istrinya. Sehingga namanya jadi Mina Boxing Camp. Cara merekrut atlet cukup unik. Joko mengumumkan lewat Facebook.  ”Alhamdulillah, ada sekitar sembilan atlet yang bergabung, termasuk empat atlet lama,” imbuh mantan petinju kelas Bulu Mini itu.

Meski sasananya kembali eksis, Joko kembali menghadapi masalah. Selain gagal mendapat jatah untuk tampil di Porprov 2015, saat itu terjadi sengketa dengan inner keluarganya terkait keberadaan lokasi yang digunakan sebagai sasana.     Tak mau ribut, Joko joke memilih mengalah. Sampai akhirnya, dia memindah sasananya ke Dusun Rowobaru, Desa Ketapang yang akhirnya digunakan oleh Mina Boxing Camp hingga sekarang. ”Kita sempat dijanjikan akan turun di Porprov. Sayangnya, sampai kegiatannya berlangsung, sama sekali tidak dipanggil lagi. Akhirnya kami memilih tetap membina atlet, namun  tanpa mengikuti module Pertina Banyuwangi,” ujar mantan petinju Sasana AKAS itu.

Kini, Mina Boxing Camp memiliki 12 atlet tinju amatir ditambah dua atlet tinju profesional. Sejak bulan Oktober 2017, Mina Boxing Camp mulai mengembangkan sayapnya dengan membuka sasana cabang di Batalion 509 Raider Jember. Mina juga berencana untuk bisa terus mendidik para atlet tinju muda baru.

Terkait pendanaan, Joko mengaku semuanya berasal dari kantong pribadinya. Sebagai mantan petinju, Joko mengaku ingin olahraganya terus berkembang, terutama di tanah kelahirannya.

Joko juga mengaku dibantu oleh salah satu pengusaha yang ada di Ketapang untuk memberikan vitamin rutin kepada para atletnya.

Joko mengaku tak pernah meminta dana kepada atlet. Yang penting, para petinju tersebut mau berlatih, bahkan mereka diberi insentif kalau bisa bermain bagus dan menang di pertandingan. Joko  selalu memberi motivasi kepada semua anak didiknya.

”Ada beberapa comparison kita yang menjanjikan akan membantu para atlet berprestasi ke depan untuk mencari pekerjaan atau sekolah yang bagus,” ungkapnya. Joko berharap olahraga tinju di Banyuwangi tidak bakal  habis. Sebab, petinju-petinju asal Banyuwangi dikenal memiliki teknik yang cukup tinggi.

More banyuwangAi ...