Anas diundang Sri Sultan berbagi pengalaman di Yogyakarta

Merdeka.com, Banyuwangi – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, saat ini belanja pemerintah cenderung terbatas karena banyak dilakukan efisiensi di sejumlah bidang. Dengan kemampuan anggaran negara yang terbatas itu, perlu module yang fokus dan berorientasi pada hasil.

“Jadi module harus menganut asas income follow result, berorientasi ke manfaat program,” ujar Anas di sela-sela forum bersama Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (19/4).

Dalam forum yang diikuti para kepala daerah dan seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Yogyakarta, Anas memaparkan sejumlah inovasi di Banyuwangi, sehingga bisa mendorong kemajuan di daerah yang terletak di ujung timur Pulau Jawa itu. “Alhamdulillah, kami tadi diundang oleh Gubernur Sri Sultan ke Yogyakarta untuk berbagi pengalaman. Tentu saya juga mengambil pengalaman dan mencuri ilmu teman-teman Yogyakarta, sehingga sinergi ini bisa membawa kemajuan bersama,” ujarnya.

Anas mengatakan, program-program harus diefisienkan sesuai manfaat ke masyarakat, tidak dibagi rata ke semua SKPD . Dia mencontohkan, tahun lalu Banyuwangi berhasil menghemat Rp 213 miliar atau 13% dari sum belanja langsung, namun dengan tetap tidak mengurangi dampak ke masyarakat. “Dulu kami punya sekitar 4.000 program, lalu kami cermati satu-satu, dan akhirnya dipangkas tinggal 1.200 program. Jadi tidak asal semua SKPD punya module yang dibagi rata, tapi ditakar manfaatnya,” kata Anas.

Dia mencontohkan sejumlah module yang sebelumnya kurang berorientasi pada hasil. Misalnya, dulu ada module peningkatan kebersihan sungai. Tapi dinas terkait mewujudkannya dengan sejumlah convention tentang sungai bersih. “Memang module convention tidak masalah sepanjang pelaporan administrasinya baik. Tapi kita tidak berhenti di administrasi. Kalau convention kan hasilnya kertas, maka module seperti itu diganti menjadi yang lebih berorientasi hasil dengan Festival Sungai Bersih, menempatkan CCTV di pojok-pojok sungai agar semuanya berpikir ulang ketika akan membuang sampah, dan menjadikan sungai sebagai destinasi wisata.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan, forum bersama Bupati Anas ini digelar untuk saling dukung dalam pengembangan daerah. “Sharing partnership yang dilakukan bersama Bupati Banyuwangi pada forum ini merupakan upaya tukar kawruh nata krida dalam membangun wilayah,” ujarnya.

Dia berharap, jajaran pemerintahan di seluruh DIY bisa terinspirasi lewat forum berbagi pengalaman itu. “Dengan mengambil nilai-nilai positif (di Banyuwangi) diharapkan mampu diinisiasi oleh SKPD untuk bisa direplikasi sesuai kondisi yang ada,” papar Sri Sultan.

Anas mengatakan, dengan berbagi pengalaman ini, diharapkan daerah-daerah bisa saling dukung dalam meningkatkan kinerja pemerintahan. Banyuwangi sendiri telah mendapat nilai A dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokasi (Kementerian PAN-RB). Banyuwangi adalah satu-satunya kabupaten di Indonesia sekaligus yang pertama yang mendapat nilai A atau tertinggi. Selama ini, belum pernah ada kabupaten yang berhasil meraih nilai A di seluruh Indonesia.

Menurut Anas, tidak mudah untuk mendapatkan kategori A dalam penilaian SAKIP, karena yang dinilai adalah kinerja pemerintahan secara sistem dan diukur dengan orientasi hasil. “Yang juga perlu ditanamkan adalah bagaimana membangun sistem, bukan hasil one male uncover kepala daerah atau kepala dinas. Artinya ada transformasi, ada budaya inovasi. Itu yang susah, tapi bisa dilakukan dengan melibatkan semua jajaran, mulai kepala dinas sampai staf, dalam setiap tahapan pembuatan kebijakan publik,” pungkas Anas.

More banyuwangAi ...