5 Hal Ini Jadi Alasan Desainer Disebut Sebagai Profesi yang ‘Wah’

JawaPos.com – Menjadi desainer bukanlah sesuatu yang murah. Ketika sudah menjadi desainer pun, butuh konsistensi untuk tetap eksis dengan biaya yang terbilang fantastis. Sehingga tak heran jika ada anggapan kalau profesi desainer adalah pekerjaan yang ‘wah’ alias mahal.

Selain sekolah mode, apa saja sih yang menyebabkan desainer dan karya menjadi mahal?

random post

1. Jenis Kain dan Produksi

Menurut CEO Bateeq, Michele Tjokrosaputro menjadi desainer memang tidak mudah dan murah. Memang butuh ekstra usaha yang keras. Salah satunya saat memilih kain atau jenis bahan dalam tahap produksi.

“Jadi desainer, mahal itu ketika harus milih bahan. Milih bahan enggak sembarangan kan. Bisa saja sih mau yang asal, tapi kan enggak bisa hasilkan karya unik, atau ada added value-nya,” tuturnya.

2. Konsistensi dan Produksi Massal

Setiap desainer harus mengetahui cara selling dan mempertahankan bisnisnya. Hal itu demi keberhasilan labelnya. Sehingga ketika orang lain memesan dalam jumlah banyak, seorang desainer tak kebingungan.

“Jadi desainer itu mahal itu betul. Karena kan di awal harus lewat tahap produksi. Persiapan cukup banyak, ada juga fabric yang kami olah lagi, atau kami beli atau kami observasi karya seorang desainer. Lalu produksi massal juga harus siap, bagaimana nanti jika ordernya banyak,” kata Pegiat Mode dan desainer, Ai Syarif.

3. Promosi dan Marketing

Seorang desainer harus punya ilmu promosi dan marketing. Itulah gunanya jejaring teman atau networking yang membantu desainer memperluas pasar. Sebab biaya promosi lebih mahal.

“Harga promosi 2 kali lipat dari harga produksi. Sekarang ini memang lebih mudah ada media sosial orang gampang jadi desainer, taruh produknya di medsos, lalu open PO,” tutur Desainer Fashion Defrico Audy.

4. Kreativitas

Ide dan kreativitas adalah sesuatu yang mahal dan tak bisa dibeli dengan uang. Karena itu, busana yang semakin unik akan semakin tinggi harganya dan sulit juga pembuatannya.

“Sekarang bisa menyiasatinya. Mencari ide dan kreativitas itu banyak banget lihat di media sosial. Mengajarkan pola brew and match. Memang jangan males ulik-ulik pasti akan ketemu ilmunya,” tegas Desainer Fashion Tities Sapoetra.

5. Brand Image

Hanya sebuah topi atau bahkan sarung tangan, jika itu buatan rumah mode dunia, maka harganya bisa fantastis. Maka nama code bisa menjadi nilai jual sesuatu yang mahal. Para selebriti yang kini banyak merambah ke dunia mode, diharapkan tidak hanya sekadar jual nama besarnya, tetapi juga kualitas dan kreativitas.

“Banyak desainer selebriti ya. Enggak apa-apa asal harus belajar lagi. Jangan sampai hanya manfaatkan nama selebritinya. Harus tahu pola, branding, marketing. Dan harus terus mengasah kemampuan dengan banyak nonton dan lihat atau terinspirasi dari koleksi pekan mode,” tutup Ai Syarif.

More banyuwangAi ...